SEJARAH PP. TERPADU AL-KAMAL KUNIR WONODADI BLITAR

Pondok Pesantren Terpadu Al Kamal didirikan pada tahun 1940 oleh KH. Manshur salah seorang putra KH. Imam Basyari (salah seorang kiyai di Pon. Pes. Al Fatah Mangunsari Tulungagung). Keberadaan Pondok ini berawal dari amanat KH. Imam Basyari terhadap putra-putranya yang menginginkan agar tanah babatan hutan di Blitar, ditempati oleh salah seorang putranya. Satu-satunya putra beliau yang bersedia menempati tanah tersebut adalah Manshur yang waktu itu baru pulang menuntut ilmu beberapa tahun di Mekah.
Tahun 1918 M. Manshur berangkat menuju desa Kunir Blitar. Di desa tersebut, mendirikan sebuah langgar dan kemudian mendirikan majelis ta’lim atau pengajian yang santri-santrinya berdatangan dari desa-desa sekitarnya.
Pengajian yang diselanggarakan KH. Manshur berkembang terus dan memerlukan beberapa tempat untuk menginap para santri-santrinya. Kala itu pondok ini bernama Pon. Pes. Kunir. Berdasarkan prasasti yang terdapat di Masjid Jami’ Desa Kunir, Pondok tersebut berdiri pada tahun 1940. Selain mengajar santri-santrinya, KH. Manshur juga menjadi imam Masjid Jami’ Kecamatan Srengat dan ikut aktif berjuang melawan penjajah.
Pemuda Manshur kemudian menikah dengan seorang gadis putri dari H. Abdullah bernama Maimunah. Dari pernikahan tersebut menghasilkan keturunan beberapa anak dan cucu yang pada akhirnya menjadi cikal bakal dari pengurus yayasan Pon. Pes. Al Kamal di masa akan datang.  Untuk lebih jelasnya,  dapat dilihat silsilah keluarga sebagai berikut :
KH. Manshur dikaruniai enam (6) orang anak, namun tiga (3) diantaranya meninggal dunia di waktu kecil, dan tiga yang hidup kesemuanya perempuan, yaitu :
1.   SITI MALIKAH menikah dengan H. SHOLEH
Bertempat tinggal 1 Km sebelah barat KH. Manshur. Pada akhirnya mendirikan Pondok Pesantren dengan nama MAMBAUL HUDA di Dusun Manggar Desa Kunir.
2.   SITI MUTINAH menikah dengan H. THOBIB, dan dikaruniai tuju (7) anak yaitu :
  1. Hj. Sumbulatin
  2. Hj. Miatu Habbah
  3. Hj. Siti Masyithoh
  4. H. Syaiful Habib
  5. Syamsul Ma’rif
  6. Hj. Siti Maswah
  7. Imam Asy’ari
3.   SITI MUNAWAROH menikah dengan KH. THOHIR WIJAYA dan dikaruniai enam (6) anak yaitu :
  1. Hj. Astutik Hidayati
  2. Hj. Nur Saida
  3. Hj. Asmawati
  4. H. Jauhar Wardani
  5. Hj. Reni Rahmawati
  6. Hj. Rina Laila Wati
Setelah KH. Manshur  wafat, Pon. Pes. ini diasuh para menantunya,  KH. Thohir Wijaya dan KH. Thobib . Pada masa inilah terdapat perubahan nama Pondok Pesantren Kunir diubah menjadi Pon. Pes. Al Kamal, hasil istikharah pengasuh saat itu yakni KH. Thohir Wijaya,  dengan perubahan dari sistem sorogan dan bandungan menjadi klasikal. Sistem pendidikan Ponpes berubah dari salafiyah murni berubah menjadi Terpadu yakni perpaduan antara salafiyah (klasik) dan Kholafiyah Ashriyah (modern).
Mulai saat itu, wajah dan dinamika pondok pesantren menjadi dinamis, berkembang sampai sekarang dengan sistem pendidikan yang lebih relevan dan akomodatif terhadap perkembangan zaman disertai tantangan modernisasinya.
Organisasi Kelembagaan Pondok Pesantren Terpadu Al Kamal
Tentang profil organisasi  Pondok Pesantren Al Kamal Kunir Wonodadi Blitar,  pesantren ini menerapkan pola pengelolaan managerial dengan mengembangkan  sistem kepemimpinan semi demokrasi. Dan Jika dijelaskan secara periodik, pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan Pon. Pes. Terpadu Al Kamal telah mengalami tiga  masa kepemimpinan.
Masa kepemimpinan pertama adalah pendiri KH. Manshur pada tahun 1940 – 1960 M, pada masa ini Pon. Pes. dikelola secara mutlak oleh pendirinya dengan dibantu oleh beberapa orang asatidz (para guru yang mumpuni dalam bidang agama, terutama mereka-mereka yang telah tamat dari pesantren-pesantren sekitar Blitar.
Masa kepemimpinan generasi kedua, pada tahun 1960 – 1998 masa ini penyelenggaraan dan pengelolaan Pon. Pes. ditangani oleh para menantu dari KH. Manshur yakni KH. Thohir Wijaya dan KH. Thobib. Yang kemudian membentuk sebuah organisasi  yayasan sebagai pengembangan dari para anggota keluarga yang memang berkompeten dalam memperjuangkan dunia pendidikan Agama Islam dan kepesantrenan. Ini terinspirasikan pada tahun 1977, ketika Bapak KH. Ahmad Thohir Wijaya diangkat menjadi anggota DPR / MPR RI, sehingga membuka akses (Network) pesantren al Kamal di lembaga birokrasi pemerintahan. Yang pada akhirnya al Kamal berkembang baik dalam pendidikan formal maupun non formal. Sejak itu al Kamal sudah menjadi sebuah lembaga pendidikan pesantren  yang didatangi oleh para santri dari berbagai penjuru tanah air.
Perkembangan berikutnya tahun 1981 jajaran pengasuh Pon. Pes. Terpadu Al Kamal semakin kokoh dengan hadirnya Bapak Drs. KH. Mahmud Hamzah ( menantu ke–1 dari KH. Ahmad Thohir Wijaya), yang secara langsung menangani pendidikan baik formal maupun non formal, khususnya menangani kajian kitab – kitab kuning dan pendalaman bahasa Arab baik pasif maupun aktif untuk sehari-hari. Bersamaan dengan itu (Th. 1981) organisasi penyelenggara Pon. Pes. Al Kamal  secara resmi didirikan  dengan bentuk yayasan  yang didirikan dan  diprakarsai oleh KH. Ahmad Thohir Wijaya (Suami dari Hj. Siti Munawaroh, Putra ke tiga dari KH Manshur). Saat itu Ketua I dijabat oleh Bapak KH. Zen Masrur , BA, Ketua II. Bapak Drs. KH. Mahmud Hamzah, Ketua III oleh Bapak Masyhudi Yusuf, BA, Bapak H. Syaiful Habib, SH. M.Hum sebagai sekretaris dan Ibu Hj. Astutik Hidayati, BA. sebagai bendahara Yayasan Pondok Pesantren al Kamal.
Nampaknya perkembangan al Kamal tidak berhenti di situ, tahun 1986, Bapak KH. Ahmad Thohir wijaya yang pada waktu itu sebagai Anggota DPR/MPR RI melebarkan sayap perjuangannya bersama – sama kabinet Pembangunan Indonesia mendirikan cabang di Pasar Kebon Jeruk Jakarta dengan nama yang sama, yaitu Pondok  Pesantren Al Kamal. Selanjutnya pada tahun 1989 kepengurusan yayasan diubah dengan masuknya Drs. H.M. Sunandari Jauhari dan H. Ibrahim Indragiri di jajaran Ketua Yayasan dan  Johar Wardani, ST sebagai bendahara.
Demikianlah perjuangan Bapak KH. Thohir Wijaya dalam membesarkan dan menciptakan beberapa pondasi Pon. Pes Al Kamal Kunir Wonodadi Blitar yang pada akhirnya pada tahun 1999, karena menderita penyakit yang sangat parah beliau  menghadap Allah Swt. dan dimakamkan di maqbaroh keluarga besar Pon. Pes Al Kamal.
Masa kepemimpinan ketiga, tahun 1998 – 2009 adalah dikendalikan oleh generasi dari Bani Manshur. Pada tahun inilah  kebersamaan , solidaritas pengurus yayasan mencapai puncak kejayaannya. Kepemimpinan yayasan tidak lagi bersifat personal individual tetapi lebih mengutamakan pada semangat kolektivitas. Ada pemilihan dan pembagian kerja di antara cucu-cucu dari KH. Manshur sebagai antisipasi dalam menyongsong  era modernisasi, dengan job diskription sebagai berikut : Bapak Drs. KH. Mahmud Hamzah, sebagai Koordinator Pondok Pesantren Terpadu al Kamal ( PPTA) dan pendidikan formal, Bapak KH. Zen masrur, BA sebagai Koordinator  keta’miran dan majlis ta’lim, Bapak Mashudi Yusuf, BA (wafat tahun 2004) sebagai Koordinator Hubungan Kemasyarakatan, Bapak Drs. HM. Sunandari sebagai Koordinator Bidang Birokrasi dan Kepemerintahan, Bapak H. Syaiful Habib, SH, M.Hum (wafat tahun 2002) sebagai Koordinator Lembaga Pendidikan dan Ketrampilan. Sedangkan perjuangan untuk mengembangkan Pondok Pesantren yang telah didirikan oleh pendahulunya dengan tugas dan wewenangnya masing – masing sesuai dengan penjelasan di atas.
Pada masa tersebut al kamal merupakan respon di tengah hangatnya suasana pertempuran dua sistem pendidikan tradisional (salafi) dan sistem pendidikan modern (‘ashriyah). Pondok ini dibangun di tengah pergumulan masyarakat abangan Kunir Wonodadi Blitar (meminjam teori Clifford Geert) yang membutuhkan keistiqomahan, keteladanan, kesabaran, kesederhanan dan semangat yang tinggi. Sehingga kalau kita melihat Al Kamal sekarang,  nilai-nilai luhur para pendiri sudah terintegrasikan dalam sistem pendidikan pondok pesantren. Setelah wafatnya Salah satu pimpinan Pon. Pes. Terpadu al-Kamal yaitu Bapak Drs. KH. Mahmud Hamzah (tahun 2009), maka Idealisme, jiwa, dan falsafah hidup yang ruh pesantren diteruskan oleh putra menantu pertama beliau yaitu Dr. K. Asmawi Mahfudz, M.Ag bersama Bapak KH. Zen Masrur, BA. Satu tahun kemudian, pada bulan Ramadhan beliau abah KH Zen Masrur BA dipanggil kehadirat Allah SWT.
Generasi ke-IV tahun 2010 hingga sekarang kepemimpinan Pondok Pesantren Terpadu Al Kamal dilanjutkan oleh Dr. K. Asmawi Mahfudz, M.Ag (menantu pertama Alm. KH. Drs. Mahmud Hamzah) dan KH. Hafidz Lutfi S.Ag (putra ke-2 Alm. KH. Zen Masrur BA). Pada masa ini, penanaman ruh pesantren dikembangkan secara efektif, efesien dengan menggunakan sistem dan metode pendidikan pesantren pada umumnya yang mengedepankan penalaran dan berpikir kritis. Cara ini pada berikutnya dapat melahirkan dan mengembangkan etos-etos tertentu yang membuat anak didik menjadi lebih dinamis, kritis dan kreatif.